Sabtu, 31 Maret 2012

IMAN KEPADA QADHA DAN QADAR

Bila kamu mengamati orang-orang dan teman-teman di sekelilingmu, maka akan terlihat bahwa Allah SWT telah menciptakan setiap manusia dalam keadaan yang tidak sama antara yang satu dengan yang lain. Ada yang laki-laki dan ada pula yang perempuan, ada yang tampan dan ada yang kurang tampan, ada yang cantik dan ada pula yang kurang cantik. Ada yang berambut pirang,berambut hitam, ada yang berambut lurus, dan ada pula yang keriting. Ada yang berkulit putih, sawo matang, dan ada yang berkulit hitam. Ada sangat cerdas dan ada pula orang yang idiot. Seseorang tidak pernah meminta dilahirkan untuk menjadi bangsa Indonesia, bangsa Malaysia, Cina, Arab, Amerika, atau bangsa manapun. Semua itu merupakan ketetapan penciptaan Allah SWT yang sering kita sebut dengan takdir. 
Bagaimana manusia menyikapi takdir Allah SWT  tersebut ? Untuk lebih memahaminya simaklah pembahasan mengenai iman kepada Qadha dan Qadar berikut ini !




A. Pengertian Qadha dan Qadar 
Beriman kepada qadha dan qadar  merupakan rukun iman yang keenam. Qadha adalah ketentuan akan kepastian yang datangnya dari Allah SWT terhadap segala sesuatu sejak zaman azali, yaitu sejak zaman sebelum sesuatu itu terjadi. Segala sesuatu yang terjadi telah diketahui terlebih dahulu karena Allah SWT merencanakan serta yang menentukannya.  Manusia tidak akan mengetahui rencana-rencana Allah SWT sekalipun ia manusia yang terpandai di dunia ini. 
Manusia punya rencana, tetapi Tuhan yang menentukan. Ungkapan ini banyak benarnya dan kedudukan Allah SWT juga kekuasaan-Nya adalah di atas segala-galanya. Ketentuan Allah SWT ini merupakan hak mutlak (absolut), tanpa campur tangan siapapun dan dari manapun. Oleh karena itu manusia harus mau menerima kenyataan. Kemampuan manusia terbatas pada ikhtiar untuk mengatasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Sedangkan berhasil atau gagal, ini merupakan kekuasaan Allah SWT semata. 
Qadar adalah ketentuan-ketentuan Allah SWT yang pasti berlaku bagi setiap makhluk sesuai dengan ketentuan yang telah dipastikan oleh Allah SWT sejak zaman azali. Oleh karena itulah, baik buruknya telah direncanakan terlebih dahulu oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT yang  Artinya : “Dan segala sesuatu  pada sisi-Nya ada ukurannya.” (QS Ar Ro’du: 8) 
Dari pengertian hadis tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa qadha dan qadar atas diri  manusia telah diputuskan oleh Allah SWT sebelum manusia ada atau dilahirkan ke dunia ini. Qadha dan qadar disebut juga dengan takdir. Takdir itu dapat diketahui oleh manusia dengan kenyataan yang terjadi, 
contoh : 
1. Terjadinya musibah bencana tsunami di Aceh pada tanggal 26 Desember tahun 2004 yang merenggut ratusan ribu korban meninggal dunia.  
2. Dalam suatu kejadian kecelakaan yang menewaskan seluruh penumpang ternyata ada seorang bayi yang selamat. Menurut ukuran akal,  si bayi adalah makhluk yang sangat lemah dan tidak mampu mencari perlindungan, tetapi  malah dia yang selamat. Sementara penumpang lain yang sudah dewasa dan dapat berusaha menyelamatkan diri malah meninggal dunia.  
3. Ada seorang yang dilahirkan dari keluarga yang sangat miskin.  Orang sekampung memperkirakan anak tersebut kelak juga akan menjadi miskin seperti orang tuanya. Namun, setelah anak tersebut dewasa ternyata menjadi orang yang pandai berdagang, sehingga dia menjadi orang yang kaya. 
 Dari berbagai contoh di atas menunjukkan bahwa qadha dan qadar Allah SWT akan tetap berlaku kepada setiap  makhluk-Nya. Oleh karena itu, orang beriman harus beriman akan adanya qadha dan qadar. Firman Allah SWT yang artinya :  “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (takdir) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (QS. Yasin : 38)
Dalam surat al-Hadid ayat 22, Allah juga berfirman yang Artinya : “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya  yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. al-Hadid : 22) 

B. Macam-macam Takdir 
Meskipun segala sesuatu yang terjadi di jagat raya ini sudah ditentukan oleh Allah sejak zaman azali, tetapi pemberlakuan takdir Allah tersebut ada juga yang mengikutsertakan peran makhluk-Nya.  Karena itulah, takdir dibagi menjadi dua, yaitu takdir mubram dan takdir mu’allaq : 
1. Takdir Mubram  
Dalam bahasa Arab, mubram artinya sesuatu yang sudah pasti, tidak dapat dielakkan. Jadi, takdir mubram merupakan ketentuan mutlak dari Allah SWT yang pasti berlaku atas setiap diri manusia, tanpa bisa dielakkan atau di tawar-tawar lagi, dan tanpa ada campur tangan atau rekayasa dari manusia.  
Contoh takdir mubram antara lain : 
1)    Waktu ajal seseorang tiba. 
2)    Usia seseorang 
3)    Jenis kelamin seseorang 
4)    Warna darah yang merah 
5)    Bumi mengelilingi matahari 
6)    Bulan mengelilingi bumi 
Dalam berbagai kejadian kelahiran manusia, kadang-kadang terjadi seorang bayi dilahirkan dalam keadaan tidak sempurna/cacat. Hal ini merupakan kehendak Allah SWT dan manusia harus menerimanya dengan ikhlas. Bisa jadi Allah SWT mempunyai kehendak lain yang masih menjadi rahasia-Nya. Jika Allah sudah menetapkan bahwa seseorang akan mati pada suatu hari, di suatu tempat, pada jam sekian, maka orang tersebut pasti akan mati pada saat dan tempat yang sudah ditentukan itu. Ia  tidak akan bisa lari atau bersembunyi dari malaikat Izrail, meskipun ia berada di dalam sebuah tembok benteng yang sangat kokoh
Allah SWT. berfirman : Artinya :  “Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, meskipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…” (QS. an-Nisa : 78) 

2. Takdir Mu’allaq  
Dalam Bahasa Arab,  mu’allaq  artinya sesuatu yang digantungkan atau ditunda. Jadi, takdir muallaq berarti ketentuan Allah yang masih mungkin dapat diubah manusia melalui usaha atau ikhtiarnya. Tentu saja jika Allah mengizinkan. Jadi Allah menunda pelaksanaan keputusan-Nya dan menggantungkannya kepada usaha manusia sendiri. Dengan kata lain, ketentuan Allah SWT tersebut juga tergantung dari usaha atau rekayasa dari manusia. 
Allah SWT. berfirman yang artinya:  “…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. ar-Ra’d : 11)  
Beberapa contoh takdir mu’allaq antara lain adalah kekayaan, kepandaian, dan kesehatan. Untuk menjadi pandai, kaya, atau sehat, seseorang tidak boleh hanya duduk berpangku tangan menunggu datangnya takdir tapi ia harus berusaha. Untuk menjadi pandai kita harus belajar; untuk menjadi kaya kita harus bekerja keras dan hidup hemat; dan untuk  menjadi sehat kita harus menjaga kebersihan. Tidak mungkin kita menjadi pandai kalau kita malas belajar atau suka membolos. Demikian juga kalau kita ingin kaya, tetapi malas bekerja dan suka hidup boros; atau kita ingin sehat, tetapi kita tidak menjaga kebersihan lingkungan, maka apa yang kita inginkan itu tak mungkin terwujud. Orang yang meyakini takdir Allah SWT, tidak boleh pasrah begitu saja kepada nasib karena Allah SWT memberikan akal yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Allah SWT juga memberikan tubuh dalam bentuk sebaik-baiknya untuk digunakan sarana berusaha. 
Dengan demikian, jelaslah bahwa beriman kepada qadha dan qadar Allah bukan berarti kita hanya pasrah dan duduk berpangku tangan menunggu takdir dari Allah; melainkan juga berusaha yang giat sepenuh hati mengubah nasib sendiri, berupaya bekerja dengan keras mencapai apa yang kita cita-citakan. 

C. Fungsi Iman Kepada Qadha dan Qadar 
 1. Menyadari dan menerima kenyataan  
 Iman kepada qadha dan qadar dapat menumbuhkan kesadaran yang tinggi untuk menerima kenyataan hidup.  Karena yang terjadi adalah sudah pada garis ketentuan Allah pada hakekatnya bencana atau rahmat itu semata-mata dari Allah SWT. Firman Allah SWT  yang Artinya :  “Katakanlah: “Siapakah yang dapat  melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Allah menghendaki bencana atasmu, atau menghendaki rahmat untuk dirimu dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah”. (QS. al-Ahzab : 17) 

2. Membentuk dan meningkatkan kesabaran 

Orang yang beriman kepada qadha dan qadar akan senantiasa menerima segala sesuatu dengan penuh kesabaran, baik dalam situasi yang sempit atau susah dan tetap bersabar dalam situasi senang atau bahagia. Dengan demikian orang yang beriman kepada takdir Allah SWT senantiasa dalam keadaan yang stabil jiwanya.  
Artinya : “Apakah manusia itu mengira mereka akan dibiarkan, sedang mereka tidak diuji lagi ?”. (QS. al-Ankabut : 2) Wujud ujian dan cobaan bisa berupa tiadanya biaya pendidikan, fisik yang lemah, penyakit, orang tua meninggal, dilanda bencana alam, dan sebagainya. 
Perhatikan firman Allah yang artinya:  “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah : 155) 
Renungkan ayat 155 surat al-Baqarah, yaitu supaya memberi berita gembira  kepada orang-orang yang sabar. Memang dalam menghadapi cobaan diperlukan sikap sabar. Tanpa sikap sabar akan sulit manusia mencapai sukses. 

3. Sebagai pendorong dalam berusaha 
Agar seseorang terus giat berusaha  ia pun yakin bahwa segala hasil usaha manusia selalu diwaspadai, dinilai, serta diberi balasan. Firman Allah : Artinya :  “Dan bahwasannya seorang manusia tiada  memperoleh selain apa  yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan di perlihatkan (kepadanya). Kemudian  akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasannya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu)”. (QS an-Najm : 39-42) 

4. Menumbuhkan Sikap Optimis 
Keyakinan terhadap Qadha dan  Qadar dapat menumbuhkan sikap yang optimis tidak mudah putus asa. Karena ia yakin walau sering gagal, pasti suatu saat akan berhasil sehingga tidak akan berputus asa. Firman Allah SWT : Artinya :  “…dan jangan kamu berputus asa  dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat  Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf : 87) 

5. Menumbuhkan jiwa tawakal 
 Jiwa tawakal pasrah kepada Allah SWT akan tumbuh pada diri seseorang jika ia meyakini bahwa segala sesuatu telah dikehendaki Allah. Allah Maha bijaksana sehingga menurut keyakinannya Allah tidak mungkin menyengsarakannya. Allah sumber kebaikan sehingga tidak mungkin Allah menghendaki hamba-Nya kepada keburukan.   Firman Allah SWT yang artinya: Artinya : “Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah, Tuhanku, dan Tuhanmu. Tidak ada satu binatang melata pun, melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud : 56). 

2 komentar:

  1. subhanallah alhamdulillah allahu akbar

    BalasHapus
  2. ketika Allah menakdirkan seseorang itu kaya,apakah cara-cara atau jalan yang di lakukan orang untuk menuju kepada kekayaan tersebut dgan cara yg baik atau jahat, itu juga sudah ditakdirkan Allah...? mohon jawaban nya ya Ihkwan,terima kasih

    BalasHapus