Senin, 06 Februari 2012

AKHLAK TERPUJI

Standar kompetensi    : 3. Membiasakan perilaku terpuji
Komepetensi Dasar     : 3.1. Menjelaskan pengertian zuhud dan tawakal.
                                      3.2. Menampilkan contoh perilaku zuhud dan tawakal.
                                      3.3. Membiasakan perilaku zuhuddan tawakal dalam
                                              kehidupan sehari-hari.

A. Zuhud

Zuhud adalah tidak berhasrat terhadap sesuatu yang mubah walaupun kesempatan untuk memperoleh atau mengerjakannya ada. Hal itu dilakukan untuk melatih dan membersihkan diri dan untuk mendahulukan kepentingan orang lain dari kepentingan diri sendiri. Zuhud bukan berarti berhasrat mengerjakannya terhadap sesuatu yang mubah karena tidak mempunyai kemampuan memperoleh atau mengerjakannya. Zuhud juga bukan berarti menundukkan hawa nafsu dan menyiksanya tanpa maksud memberi kemanfaatan kepada sekelompok orang. Menundukkan hawa nafsu dengan tujuan seperti itu adalah perbuatan yang diharamkan oleh islam.
Firman Allah SWT : Artinya : “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah: “ Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikian kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui”. (Qs. Al Araf : 31 – 32)
Zuhud adalah sifat utama yang berkaitan dengan sifat-sifat utam lainnya, seperti qana’ah, iffah, sabar, syaja’ah, istiqomah. Keinginan yang berlebih-lebihan terhadap kehidupan dunia yang menyebabkan dirinya lupa kepada Allah sangat tidak disenangi Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya: Artinya : “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Qs. Al Ankabut : 64)

Tumbuhnya sikap zuhud pada seseorang melalui suatu proses, setelah orang memiliki iman yang makin tebal dan kuat serat adanya keinginan yang besar terhadap kehidupan akhirat yang lebih kekal. Sedangkan kehidupan dunia ini ibarat permainan belaka dan bersifat sementara, sebagaiman firman Allah SWT : “Hai manusia, bertawakal kepada tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dpat menolong anaknya dan seorang tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan)memperdaya kamu dalam (menaati) Allah.” (Qs. Luqman : 33)

Zuhud itu dapat dibagi atas tiga tingkatan yaitu :
  1. Derajat perman (terendah) yaitu menghindari dunia padahal hatinya sangat berkeinginan dan sangat tertarik, tetapi berusaha sekuat-kuatnya untuk menghindarinya dan merasa cukup dengan yang sudah dimiliki.
  2. Derajat kedua yaitu meninggalkan dunia karena pandangan rendah dan hina terhadap orang yang rasuk dan tamak terhadap harta.
  3. Derajat ketiga yaitu meninggalkan dunia karena zuhud semata karena adanya pandangan bahwa dunia tidak berarti sedikitpun dibandingkan dengan kenikmatan akhirat.

Zuhud Rasulullah SWA adalah yang dijadikan teladan pera sahabat. Para sahabat nabi menjalani kehidupan zuhud biasa dinamakan ahli Syuffah atau sufi, karena kebiasaan sebagian besar mereka memakai pakaian yang terbuat dari Suf, yakni bulu kambing. Pada dasarnya zuhud itu bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kepada Allah SWT. Untuk itu diperlukan kemampuan mengendalikan hawa nafsu syahwat yang selalu cenderuh kepada keduniaan.
Zuhud merupakan salah satu sifat terpuji, yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang mukmin untuk menyempurnakan ibadahnya. Namun menghindari urusan dunia hanya untuk beribadah dalam arti sempit saja, kurang menguntungkan kehidupan beragama. Peribadatan dalam arti luas menyangkut jiwa raga dan harta yang tersangkut bukan saja hak Allah, tetapi juga hak manusia. Zuhud yang hanya untuk beribadah dan hanya mementingkan urusan akhirat, dinilai sebagai egosistis mementingkan diri sendiri. Allah SWT memerintahkan untuk beribadah sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya agar memperoleh kebhagian di akhirat kelak, tanpa melalaikan urusan duniawi sehingga dapat mencukupi keperluan hidupnya sendiri, keluarganya, dan mampu melaksanakan kewajiban-kewajiban sosial. Allah SWT berfirman : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiamu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaiman Allah telah berbuat baik kepadamu, dan jangnlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Qs Al-Qasash:77)


B. Tawakal

Perkataan tawakal menurut bahasa berasal dari kata kerja wakala, yang artinya meawakilkan atau menyerahkan. Menurut istilah tawakal adalah berserah diri kepada Allah dalam menghadapi sesuatu pekerjaan atau situasi sesudah berusaha dengan daya dan upaya maksimal. Menurut Prof. Dr. Hamka bahwa bertawakal hendaklah menyerahkan keputusan segala perkara, ikhtiar, dan usaha hanya kepada Allah, sebab Allah yang mahakuasa sedangkan kita lemah dan tidak berdaya. Tawakal kepada Allah baru dapat dikerjakan seseorang setelah segera ikhtiar untuk mewujudkan, mengatasi kesulitan sudah mencapai batas maksimal. Manusia wajib berusaha, tetapi hasil keputusannya berada dalam kekuasaan Allah.
Firman Allah SWT : “ Katakanlah: “Dialah Allah yang maha penyayang, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya kami bertawakal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah dia yang dalam kesesatan yang nyata”. (Qs. Al Mulk : 29)  Dalam ayat yang lain : “ Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakalah kepada Allah” (QS. Ali Imran : 159)
Menurut ajaran islam, bertawakal itu merupakan landasan atau tumpuan terakhir dalam suatu usaha atau dalam perjuangannya. Apabila kita menghadapi bahaya maka kita harus bersabar, yaitu berani menghadapi untuk mempertahankan kehormatan diri. Bila mempertahankan diri tidak sanggup, kita harus mengelak dan inilah yang dinamakan tawakal. Apabila bahaya itu kita serahkan begitu saja kepada Allah tanpa berusaha untuk mengelak, mak yang demikian bukan dinamkan tawakal.
Untuk mencukupi keperluan keluarga sehari-hari, kita harus berusaha kerja keras mencari rezeki. Bila kita telah berusaha keras, barulah kita berserah diri kepada-Nya, sebab Allah sendiri yang membagi rezeki kepada kita. Firman Allah SWT : Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. At Talak : 3)
Begitu pula apabila kita ditimpa suatu penyakit, maka kita wajib berusaha dan tidak boleh membiarkan saja tanpa mencari obat. Allah sangat menghargai ikhtiar manusia, sebab perintah berusaha dan sabda Rasulullah SA. : “Setiap penyakit ada obatnya. Apabila penyakit telah bertemu dengan obatnya, maka penyakit itu akan sembuh atas izin Allah, tuhan yang maha perkasa dan maha agung ”. (HR. Muslim)
Bersikap tawakal sebenarnya mendorong seseorang menjadi optimis, sebab ia hanya menggantungkan harapannya kepada Allah. Apabila ia berhasil tidak membuatnya sombong dan bila ia gagal tak akan berputus asa. Jadi, sikap tawakal akan menghasilkan banyak manfaat bagi yang melakukan, jika disertai niat yang ikhlas dan cara yang benar.
Beberapa hikmah dari sikap bertawakal, antara lain :
1.      Mendorong sesorang untuk bersikap optimis dalam segala usahannya, dan hanya bergantung kepada pertolongan Allah.
2.      Mendidik seseorang percaya diri dalam mencapai cita-cita sebab segala sesuatu yang dilakukannya diyakini akan berhasil.
3.      Tidak mudah berputus asa dalam berusaha, sebab bila mengalami kegagalan telah menyerahkan diri kepada kekuasaan Allah.
4.      Membuat seseorang akan mensyukuri nikmat Allah yang diterimanya, karena ia yakin karunia itu atas pemberiannya.
5.      Tidak akan bersikap sombong jika telah berhasil apa yang di inginkan, sebab keberhasilannya telah sesuai dengan iktiar yang di lakukan.
6.      Menjadikan hati merasa tenang dan tentram, sebab merasa dekat kepada Allah.
7.      Meningkatkan iman seseorang dengan mematuhi apa yang diperintahkan Allah, pasti akan memperoleh keridaannya.
8.      Mendidik seseorang untuk berhati-hati dan mawas diri, bahwa segala kegiatan dan perbuatan kita diawasi dan diberi balasan sesuai nilai baik dan buruknya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar